Budaya Menarik
Budaya adalah satu hal yang tak bisa dipisahkan dari keberadaan objek wisata di Bali. Oleh karena itu kali ini kita akan mengulas hal hal menarik apa aja sih yang ada di destinasi piknik yang berjuluk “Morning of The World” ini.
Sebutan Pulau Dewata
Sebutan “Pulau Dewata” sering digunakan bila membahas tentang tempat tempat wisata di Bali. Tahukah kamu darimana asalnya julukan tersebut? Julukan ini terilhami dari kepercayaan spiritual masyarakat pulau ini.
Dalam kebudayaan Bali kuno, dikenal lah sembilan sekte Hindu yaitu Siwa Shidanta, Brahma, Bhairawa, Pasupata, Bodha, Waisnawa, Sora, Ganapatya, dan Resi. Tiap sekte memiliki dewa masing masing.
Masyarakat setempat menyebut “para dewa” dengan sebutan dewata. Dari situlah julukan Pulau Dewata muncul dan identik dengan Bali.
Inilah jawaban mengapa banyak daerah di Indonesia yang menganut paham yang sama dengan Bali, yaitu politeisme. Namun, yang dijuluki tempat para dewa hanya pulau ini.
Upacara Pembakaran Mayat (Ngaben)

Sumber: Instagram.com/manusiakarton/
Sama seperti Kota Jogja, Bali adalah daerah yang masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat. Salah satu upacara adat yang sangat terkenal dari pulau ini adalah Ngaben atau upacara pembakaran mayat.
Masyarakat daerah ini percaya bahwa orang yang telah meninggal belum sepenuhnya diterima di alam baka. Rohnya harus dipisahkan dulu dengan jasadnya sehingga ia bisa diterima di alam baka.
Pemisahan tersebut harus melalui penyucian dengan dibakar dalam api suci. Pembakaran tersebut dilakukan dalam upacara besar besaran layaknya upacara pernikahan, dan tak boleh ada air mata selama prosesi.
Untuk orang kaya atau yang berkasta tinggi, Ngaben bisa dilaksanakan selama 3 hari atau lebih. Untuk hari pelaksanaannya pun tak bisa main main, harus ditentukan berdasarkan perhitungan ala kepercayaan yang dianut.
Selama menunggu hari baik tersebut, mayat akan dikubur terlebih dahulu di suatu tempat bernama Pura Prajapati.
Karena memakan biaya yang sangat banyak, bagi masyarakat yang kurang mampu, mereka biasanya mengikuti upacara Ngaben massal yang diadakan oleh komunitas warga setempat.
Selama prosesi, akan ada banyak sekali sesaji dan musik musik pengiring yang mengiringi. Peserta upacara pun tak ada yang berpakaian hitam layaknya orang berkabung.
Setelah 12 hari setelah mayat dibakar, pihak keluarga akan menaruh abu jenazah di tempurung kelapa untuk dihanyutkan ke laut. Tujuannya agar orang yang meninggal tersebut bisa kembali ke alam, tempat ia berasal.
0 Comments